Selasa, 27 November 2012


Rujak Cingur
Tak lengkap rasanya, berkunjung ke Surabaya tanpa mencicipi makanan khas yang satu ini. Terdiri dari lontong, tahu, tempe, cingur, irisan beberapa jenis buah-buahan seperti ketimun, mangga muda, krai (sejenis ketimun khas Surabaya), bengkoang, dan nenas serta tak ketinggalan beberapa jenis sayur-mayur seperti kecambah/tauge, kangkung, dan kacang panjang.

Disebut rujak cingur karena bumbu yang digunakan adalah campuran petis udang dan cingur. Bumbu inilah yang digunakan untuk mencampur semua bahan-bahan di atas. Menikmati seporsi rujak cingur akan lebih sempurna bila disertai dengan kerupuk.Untuk melestarikan makanan khas ini, pada rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, setiap Mei, selalu diadakan Festival Rujak Cingur.

Pertamina Tolak Investor Baru untuk Blok Natuna  

TEMPO.COJakarta - PT Pertamina (Persero) sudah menentukan mitra kerja dalam pengelolaan gas Blok East Natuna, Kepulauan Riau. Karena itulah, perseroan tidak bisa lagi menerima investor baru untuk pengelolaan Blok East Natuna tersebut.

“Pertamina sudah melakukan partner selectionsejak akhir tahun lalu, dan tahapannya sudah final,” kata juru bicara Pertamina, Ali Mundakir, ketika dihubungi Tempo, Selasa, 16 Oktober 2012.

Sebelumnya, perusahaan minyak dan gas asal Kuwait, Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC), menyatakan minatnya untuk bergabung dalam konsorsium pengelola blok gas East Natuna di Kepulauan Riau. KUFPEC kemungkinan menjadi salah satu penyandang dana pengembangan lapangan gas yang membutuhkan investasi Rp 200 triliun tersebut. KUFPEC diperkirakan bisa menanamkan modal hingga Rp 20 triliun atau menutup 20 persen dari biaya investasi proyek East Natuna.

Namun, Ali menegaskan bahwa Pertamina sudah menutup pintu bagi mitra baru karena sudah melewati proses pemilihan secara bertahap. Pertamina sudah memutuskan tiga mitra kerja untuk pengelolaan Blok East Natuna. Dia enggan mengungkapkan siapa saja ketiga mitra tersebut.

Ali hanya mengatakan bahwa saat ini Pertamina bersama mitra kerja terpilih sedang membahas teknis mencapai tingkat keekonomian dari proyek yang membutuhkan investasi Rp 200 triliun tersebut. “Termasuk soal insentif fiskal yang diminta kepada Kementerian Keuangan,” kata dia.

Insentif fiskal diperlukan karena proyek East Natuna ini membutuhkan kekhususan dalam pengelolaannya. “Karena 70 persennya merupakan CO2,” ujarnya. Dari cadangan gas 222 triliun kaki kubik (trillion square cubic feet/TSCF) tersebut, hanya 46 TSCF yang bisa dimanfaatkan. Selebihnya, gas dengan kandungan karbon dioksida tinggi harus disuntikkan kembali ke dalam tanah.